loading...

Cari Puisi Disinii

Sabtu, 26 Januari 2019

Kumpulan Puisi Tentang Kunang-Kunang


Puisi Kunang-kunang: Pernahkah kalian melihat kunang-kunang? Bagaimana menurut kalian kunang-kunang itu? Berbicara tentang kunang-kunang, Kumpulan Puisi Nadi Guru akan menyajikan beberapa puisi tentang kunang-kunang.

Adapun Kumpulan Puisi Tentang Kunang-Kunang sebagai berikut.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Puisi Kunang-kunang 1 : Kunang-Kunang

Ketika kecil ia sering diajak ayahnya bergadang
di bawah pohon cemara di atas bukit. Ayahnya
senang sekali menggendongnya menyeberangi sungai,
menyusuri jalan setapak berkelok-kelok dan menanjak.
Sampai di puncak, mereka membuat unggun api,
berdiang, menemani malam, menjaring sepi. Ia sangat
girang melihat kunang-kunang berpendaran.

“Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?”
“Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang.”
Ia terbengong, tidak paham bahwa ayahnya sedang
mengajarinya bermain kata.

Bila ia sudah terkantuk-kantuk, si ayah segera
mengajaknya pulang, dan sebelum sampai di rumah,
ia sudah terlelap di gendongan. Ayahnya
menelentangkannya di atas amben, lalu menaruh
seekor kunang-kunang di atas keningnya.

Saat ia pamit pergi mengembara, ayahnya membekalinya
dengan sebutir kenang-kenang dalam botol.
“Pandanglah dengan mesra kenang-kenang ini saat kau
sedang gelap atau mati kata, maka kunang-kunang
akan datang memberimu cahaya.”

Kini ayahnya sudah ringkih dan renta.
“Aku ingin ke bukit melihat kunang-kunang. Bisakah
kau mengantarku ke sana?” pintanya.

Malam-malam ia menggendong ayahnya menyusuri
jalan setapak menuju bukit.
“Apakah pohon cemara itu masih ada, Yah?”
tanyanya sambil terengah-engah.
“Masih. Kadang ia menanyakan kau dan kukatakan
saja: Oh, dia sudah jadi pemain kata.”

“Nah, kita sudah sampai, Yah. Mari bikin unggun.”
Si ayah tidak menyahut. Pelukannya semakin erat.
“Tunggu, Yah. Kunang-kunang sebentar lagi datang.”
Si ayah tidak membalas. Tubuhnya tiba-tiba memberat.
Ia pun mengerti, si ayah tak akan bisa berkata-kata lagi.

Pelan-pelan ia lepaskan ayahnya dari gendongan.
Ketika ia baringkan jasadnya di bawah pohon cemara,
seribu kunang-kunang datang mengerubunginya,
seribu kenang-kenang bertaburan di atas tubuhnya.
“Selamat jalan, Yah. In paradisum deducant te angeli.”
(2010)
Karya: Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
(Sumber: stefanymindoria.blogspot.com)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Puisi Kunang-kunang 2 : Kunang-kunang

serangga malam
kerlap-kerlip cahayamu, bak lentera alam
bersinar menerangi gelapnya malam
                                              
Kunang-kunang
Walau sinarmu tak mampu menyaingi
bulan dan bintang, namun
Sinarmu memperindah malam nan gelap

Kunang-kunang
kemana kau pergi...?
tak ada lagi kerlap-kerlip sinarmu
tak ada lagi keindahan lentera itu 
                                                    
Kunang-kunangku mati
karena polusi,
semuanya mati
dan
tak akan terganti....

Kini,...
Kunang-kunang tinggallah impian,
hilang terbang bersama sang awan,
mata terpejam anganpun melayang,
Rindukan
kunang-kunang
yang tinggal kenangan...
(Sumber: stefanymindoria.blogspot.com)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Puisi Kunang-kunang 3 : Cahaya Kunang Kunang

Di secaruk gulungan malam
Berkedip setitik cahaya jingga
Menerangkan kehampaan setitik hitam
Menerbangkan bunga bunga malam.

Kunang kunang
Terbang ke sudut sudut hitam
Sungguh indah kunang kunang
Sungguh sempurna ciptaan tuhan.

Kunang kunang sungguh indah
Terbang dengan dua sayap
Indah memancarkan cahaya
Menjadi pelipur lara di kala malam.
Karya: Rayhandi
(Sumber: stefanymindoria.blogspot.com)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Puisi Kunang-kunang 4 : Aku Adalah Kunang Kunang

Aku adalah kunang kunang
Yang terbang di angin jelata malam
Mengais gelap hingga hitam menutup
Terbang jauh tanpa tujuan.

Aku adalah kunang kunang
Bertemankan sunyi adalah dagingku
Aku hanya bisa selalu sendiri
Melayang di bawah bulan sabit.

Aku adalah kunang kunang
Aku tidak butuh cahaya ataupun teman
Karena di mana sayapku melayang
Cahaya kecil selalu di sana.

Aku adalah kunang kunang
Di rimba malam aku berpetualang
Berteman dengan bongkahan dingin
Sendiri hingga pagi menjenguk.
Karya: Rayhandi
(Sumber: stefanymindoria.blogspot.com)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Puisi Kunang-kunang 5 : Bintang Kunang-Kunang

Bintang yang paling terang itu
yang selalu kau amati dan rindu
telah menjelma kunang-kunang
datang dan menghinggapi jemarimu
namun kau mengusirnya
sembari terus menangisi
bintang yang tiada

Bekasi, 10 Januari 2015
Karya: Norman Adi Satria
(Sumber: stefanymindoria.blogspot.com)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Demikian penyajian kumpulan puisi tentang kunang-kunang. Semoga bermanfaat!!!
loading...
Tidak ada komentar :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar