Cari Puisi Disinii

Senin, 27 Maret 2017

Puisi Cinta : Puisi Sang Jejaka

Puisi Sang Jejaka

Pada setiap bait puisi terselipkan sekiranya sebongkah perasaan
Yang terlampau ranum dan candu bagi seorang jejaka
Yang seyogiyanya telah lama berkutat dalam keasingan dunianya
Dalam larik-larik puisi ia gambarkan setiap kesempurnaan
Yang tergambar dari elokan tubuh dan senyum seorang wanita

Seiring penggantungan tanyanya akan kekosongan hidup
Lalu lagi ia putuskan untuk kembali berpulang dari kehampaan
Membuka lebar-lebar pintu hati yang telah lama tertutup rapat
Seperti bibir-bibir sungging yang terus mencibir
Walau tiada satu setan pun yang tahu rahasia kita

Dan jejaka itu kembali menulis puisi

Akan tiba saatnya jua; Ketika perasaan tertambat di kaki seorang wanita
Yang secara munafik mempermainkan kehidupan
Laksana sebuah guratan abstrak bermakna besar
Laksana sepenggal melodi cinta tak tertebak
Seorang penyair melantunkan puisi rayuan dalam debar

Ia ingin menjadi sesemilir angin, untuk terus bisa memeluk lekuk tubuh wanita itu
Ia ingin menjadi sepijar cahaya, agar terus mampu menerangi kesedihan wanita itu
Ia ingin menjadi tetesan air hujan, agar ia mampu menghapus segala lara dan luka wanita itu
Namun ia bukanlah siapa-siapa yang memiliki kuasa akan kehidupan wanita itu
Ia hanyalah seorang jejaka yang selalu ada dan mendamba wanita itu

Berapa banyak lagi puisi cinta yang akan lahir dari penghayatan rasa jejaka ini?
Berapa banyak lagi wanita yang akan lahir dari rahim puisi cinta jejaka ini?
Atau mungkin wajah penuh amarah dan kesedihan yang akan terlukis di wajah jejaka ini?
Atau bisa jadi hati penuh luka dan melebam yang akan ada di hati jejaka ini?

Tapi bukankah kita terlahir akan sebuah alasan
Seperti cinta yang sekiranya tumbuh bersama dengan lorong-lorong waktu yang gulita
Wanita itu merupakan bunga yang mekar di hati jejaka ini

Jejaka itu pun menghentikan puisinya

Melangkah menghitung detik yang menimbun luka tanpa kata
Memang tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana
Hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah perahu ini akan berlayar ?
Memecah rindu-rindu menuju jalan kembali pada tanah asal.

Karya : Jayanto Halim Tjoa
Puisi Cinta : Puisi Sang Jejaka
Tidak ada komentar :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar