Sabtu, 09 September 2017

Puisi Bencana Alam : Badai Tornado

Badai Tornado

Langit gelap dan angin kencang
Angin bertiup dengan gemuruhnya
Seakan bumi ini akan kiamat
Tak satupun rumah selamat
Bahkan benda-bendapun ikut porak-poranda
Kau datang tak diundang
Menghantam dan menghancurkan
Semua yang ada di hadapan
Berputar di atas langit
Menghujam bumi
Semua orang panik
Ketakutan berlari tak tentu arah
Mencari tempat perlindungan
Memohon keselamatan pada Tuhan
Agar badai segera reda

Karya : (?) via : puisianaksd.wordpress.com
Puisi Bencana Alam : Badai Tornado

Puisi Bencana Alam “Gempa Bumi”

Gempa Bumi

Ketika bumi diguncang
Pohon-pohon turut bergoyang
Bangunan runtuh berjatuhan
Orang-orang berlari ketakutan
Sambil berdoa mencari perlindungan

Gempa bumi adalah gejala alam
Kehendak Allah Sang Pencipta alam
Mari sayangi alam
Karena kita sahabat alam

Karya : (?) via : sastraforever
Puisi Bencana Alam “Gempa Bumi”

Puisi Chairil Anwar : Penerimaan

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

Karya : Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar : Penerimaan

Puisi Chairil Anwar : Kesabaran

Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

Maret 1943

Karya : Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar : Kesabaran

Puisi Chairil Anwar : Perhitungan

Perhitungan

Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda
caya

Langit bersih-cerah dan purnama raya…
Sudah itu tempatku tak tentu di mana.

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke
Sukabumi…!?

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

16 Maret 1943

Karya : Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar : Perhitungan

Puisi Chairil Anwar : Kenangan

Kenangan
untuk Karinah Moordjono

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! Tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

19 April 1943

Karya : Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar : Kenangan

Puisi Chairil Anwar : Malam

Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Karya : Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar : Malam